Mentari Gunung : Sebuah Nama Dari Kami

pda_211Saya ingin mengisahkan sebuah cerita lama yang singkat. Cerita tentang semangat hidup ketika lumayan jauh dari peradaban. Cerita tentang kebesaran Allah yang menciptakan alam semesta dengan gunung dan lembah yang bisa dijadikan manusia sebagai tanda. Cerita tentang kebersamaan untuk belajar dari alam semesta yang hamparannya begitu luas ini. Cerita tentang kesabaran.

Tak terasa waktu berjalan sudah sekitar satu tahun, saya menuliskan cerita melalui lembaran elektronik ini, dari menyerahnya seorang mahasiswa IT Telkom di tengah hutan daerah Kabupaten Bandung pada suatu rangkaian pendidikan yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Mahasiswa Pecinta Alam ASTACALA Institut Teknologi Telkom di awal tahun 2012. Ya, mahasiswa itu adalah saya sendiri.

Di Pendidikan Dasar ASTACALA XX saya menyerah kalah. Kalau tak salah sebut, di hari ke delapan saya menyerah. Meninggalkan 26 orang teman yang melanjutkan perjuangan, melawan rasa malas, malawan rasa takut, melawan rasa putus asa. Terucap sebait janji kepada mereka, bahwa saya akan ikut di Pendidikan Dasar selanjutnya, yaitu Pendidikan Dasar ASTACALA XXI.

Hari berganti dan tibalah waktu itu. Pendaftaran Pendidikan Dasar ASTACALA XXI dibuka. Hati tak ingin daftar lagi. Terbayang betapa dinginnya hutan dengan hujannya yang terkadang lebat dan terkadang rintik. Nafas yang tersenggal karena jalan berkilo-kilo meter jauhnya, jari tangan yang membengkak karena setiap harinya dihiasi dengan menebang kayu, untuk tempat berlindung, dan untuk menghangatkan tubuh. Ah, tak terbayang lelahnya. Aku tidak mau daftar lagi.

Hari terus berjalan, semakin mendekati hari akhir pendaftaran Pendidikan Dasar ASTACALA XXI. Tiba-tiba aku teringat janji kepada 26 orang teman yang dulu melanjutkan perjuangan ditengah rimbunnya pepohonan dan ditengah tingginya daratan. Ya, janji itulah yang menguatkan diri ini dan memotivasi diri ini untuk ikut Pendidikan Dasar lagi. Kian hari selalu saya perkuat ingatan tentang masa perpisahan dan perjanjian itu, serta dibarengi suatu niat dan motivasi yang menurut saya juga sangat penting (akan saya ceritakan dilain waktu). Menjelang akhir masa pendaftaran, saya pun mendaftar Pendidikan Dasar ASTACALA XXI dengan penuh kesadaran dan dengan penuh harapan. Semoga apa yang akan saya lakukan kedepannya bisa bermanfaat. Sekaligus penebus janji.

Dimulai dengan latihan fisik berupa lari keliling kampus, agar raga ini kuat saat praktek di tempat yang jauh dari peradaban. Memang dasar diri ini mudah lengah, selalu kecolongan untuk berlatih fisik. Tapi ya sudahlah, hari dimana praktek besar akan dilaksanakan sudah mendekat.

Sebelum praktek besar, ada materi kelas yang memang sangat penting untuk dipahami. Dari situlah bekal ilmu yang akan digunakan selama praktek besar. Dari cara packing barang, lingkungan hidup, botani & zoology, survival, dan materi-materi lainnya yang tentunya menambah khazanah intelektual diri ini. Sampai pada akhirnya kesiapan ilmu telah tercapai, praktek besar pun siap dilakoni.

Capture
camp 1 long march

Bersama dengan 14 orang teman, saya berangkat ke lapangan untu praktek besar. Dari Long March, Gunung Hutan, Survival kita lakoni bersama-sama. Tapi sayang disayang, lima orang mundur saat hari-hari dihiasi dengan nuansa survival. Saya sangat menyayangkan dan ikut membayangkan satu tahun lalu saat posisi saya sama seperti lima teman saya yang mundur. Ada perasaan bersalah dalam diri ini pastinya. Meninggalkan teman-teman di hutan manakala perjuangan masih berjalan. Tapi hidup adalah pilihan. Saya sangat menghormati pilihan teman-teman saya yang memilih jalannya. Jika memang itu membawa kebaikan baginya, lantas untuk apa melarang orang untuk pergi ke surga (*surga dunia) ?

Sepuluh kali siang dan sembilan kali malam kami sudah lalui. Bivak ponco yang terlambat berdiri, mencari kayu yang malasnya semakin menjadi-jadi karena terlalu lelah menggendong carier, semua telah berlalu. Begitu pula dengan bivak alam yang bocor atau kurang kokoh, membuat api yang sangat sulit sehingga bermalam dengan dinginnya angin, semua telah kami lalui. Air sungai yang dingin, sampah-sampah kecil yang tercecer, push up ratusan kali, koprol yang membuat perut mual, tentu itu akan menjadi bumbu manis perjalanan kami. Dan terakhir adalah tidur diatas pohon bermodalkan ponco dan lilin yang menyala, itu adalah momen yang paling tidak bisa dilupakan. Terutama ketika salah seorang teman menjatuhkan lilin yang sedang menyala. Malam terakhir pun diselimuti dengan kedinginan, kedinginan dalam kebersamaan.

DSC_0634
Mentari Gunung

3 Februari 2013, Ranca Upas, udara pagi, daratan yang luas, mentari pagi yang hangat, gunung-gunung yang berundak disebelah mentari jika dilihat dari segi dua dimensi, semua itu menjadi saksi bisu tentang kondisi kami. Sepuluh orang telah berhasil melalui semuanya. Bertahan walau dengan segenap ‘penderitaan’. Silakan orang berkata tentang apa yang telah, sedang, dan akan kami lakukan. Yang kami yakini ini semua tidak akan sia-sia. Karena hidup adalah tentang gelora semangat dan penuh dengan luasnya hamparan ilmu. Selamat untuk kita semua, 10 orang angkatan Mentari Gunung.

SONY DSC
tanpa Aria (sedang ada tugas kuliah) & Nico (bekerja di jakarta)

*AM-003-MG

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top