Petunjuk Jalan : Telaah Pemikiran Sayyid Quthb

10730956_824075444281912_8644694817786759629_n28 Oktober 2014, Lapangan Gasibu, Bandung, terlihat tak seperti biasanya. Di tengah lapangan ada sekumpulan mahasiswa yang asik berdiskusi dan membedah jauh lebih dalam buku karangan Sayyid Quthb yang berjudul Petunjuk Jalan (Ma’alim Fi Ath-Thoriq) sebagai bentuk peringatan terhadap Hari Sumpah Pemuda.

Sebagaimana diketahui, buku ini (red.Petunjuk Jalan) adalah buku yang oleh beberapa kalangan disebut-sebut sebagai penggerak revolusioner para aktivis islam di seantero jagad bumi ini. Isinya terutama mencakup pemurnian ibadah dengan mengacu kepada  generasi sahabat di masa-masa awal kemunculan islam. Jihad dimaknai sebagai perjuangan konfrontasi terhadap para pengusung kebatilan di bumi ini. Sehingga tak jarang banyak sekali anak muda yang terlampau ekstrim dalam memutuskan siapakah yang kafir dan siapah yang islam sehingga kemudian tercermin dari sikap yang dimunculkannya terhadap orang-orang yang memang mengusung kebatilan di bumi ini. Tak heran buku ini dilarang beredar di beberapa Negara dan klimaksnya mengantarkan sang penulis ke tiang gantung. Memangnya seberapa dahsyat isi buku ini ?

Bedah buku kali ini menghadirkan dua orang panelis yang memiliki latar belakang sebagai aktivis muslim dan tergabung di Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Acara dibagi menjadi tiga sesi. Yang tiap sesi membahas hal-hal yang berbeda terkait isi buku. Dibutuhkan waktu yang panjang untuk membahas isi buku secara mendalam. Namun karena keterbatasan waktu, kami membedah point-point penting dari isi buku ini.

Sesi pertama diisi dengan penjabaran seputar latar belakang penulisan buku oleh Sayyid Quthb. Hal ini penting dilakukan karena kita perlu mengetahui kondisi psikis, sosial, serta politik yang terjadi saat Sayyid Quthb hidup agar generasi sekarang bisa memberikan penilaian objektif terhadap pemikiran yang dibawa oleh Sayyid Quthb.

Sayyid Quthb hidup pada era dimana pemimpin negaranya (red.Mesir) menekan gerak aktivis muslim, terutama yang tergabung dalam kelompok pergerakan Ikhwanul Muslimin (IM). Sayyid Quthb terilhami untuk ikut bergabung dengan kelompok IM diawali saat melihat gejolak bahagia rakyat Amerika (tempatnya belajar) yang berpesta diatas berita kematian pimpinan IM, Hasan Al Banna. Karena hal seperti itu maka ketertarikan Sayyid Quthb terhadap IM semakin menjadi-jadi. Sampai akhirnya Sayyid Quthb memutuskan untuk bergabung dengan IM.

Totalitas yang diberikan Sayyid Quthb terhadap islam melalui IM sangatlah besar. Sampai-sampai Sayyid Quthb disebut sebagai ideolog kedua setelah Hasan Al Banna. Ketika perjuangan membawanya kedalam jeruji besi, Sayyid Quthb tak habis akal. Dia menulis buku sebagai bentuk lain perjuangan yang bisa dilakukannya dari balik jeruji. Dan “Petunjuk Jalan” adalah judul dari buku terakhirnya yang ditulis karena setelahnya Sayyid Quthb dihukum gantung atas tuduhan menyebarkan ide-ide subversif terhadap pemerintah saat itu.

Sesi kedua diisi dengan membedah makna generasi qurani yang memiliki keunikan tersendiri dalam sejarah perjuangan ummat islam. Generasi awal yang hidup di zaman Rosulullah adalah generasi terbaik yang perlu dicontoh oleh generasi sekarang yang memiliki mimpi dan cita-cita meninggikan islam di dunia. Sayyid Quthb berpendapat bahwa jika ummat islam ingin menang maka hal yang  pertama harus dilakukan adalah meniru generasi awal yang telah mencapai kemenangan. Generasi awal ini adalah generasi yang selalu dekat dengan Al-Quran serta mengamalkan sunnah Rosul. Kedekatannya dengan Al-Qur’an dan pengamalannya akan sunnah Rosul menjadikan mereka sebagai generasi unik yang tak terkalahkan. Dengan itu dakwah islam memiliki ruh sekaligus gerakan jasad yang mendukung syarat-syarat kemenangan. Sehingga, jika generasi sekarang ingin memenangkan islam, maka meniru generasi awal adalah sebuah kemestian.

Pada sesi kedua ini juga dibahas mengenai pisau bedah Sayyid Quthb terkait penulisan idenya dalam buku Petunjuk Jalan. Sayyid menggunakan pisau bedah hanya berdasarkan Al-Quran dan Sunnah. Hal ini diperkuat dengan penjelasan panelis bahwa kebanyakan bab-bab dalam buku tersebut berkaitan dengan tafsir Fi Zhilalil Quran yang juga ditulis oleh Sayyid Quthb. Ini menekankan bahwa aktivis muslim dalam membedah ideologi pergerakan haruslah mengacu kepada Al-Qur’an dan Sunnah sebagaima yang dilakukan oleh generasi awal. Bukan menggunakan teori lain seperti teori Marxis atau yang semacamnya. Karena islam sudah sempurna dan final sebagai agama serta Al-Quran sudah lengkap sebagai pedoman hidup untuk orang yang ingin selamat dunia dan akhirat. Karenanya mengacu kepada Al-Qur’an dan Sunnah adalah suatu kemestian bagi mereka yang berjuang meninggikan kalimatullah.

Sesi ketiga menjadi sesi terkahir dari acara bedah buku. Sesi ini membahas korelasi ide-ide Sayyid Quthb dengan pemuda islam di Indonesia, khususnya para kader KAMMI. Panelis menyampaikan bahwa kader KAMMI atau aktivis pergerakan islam haruslah memiliki keunikan tersendiri, sama seperti keunikan yang dimiliki oleh generasi awal sahabat. Keunikan ini yang akan menjadikan aktivitas pergerakan memiliki ruh serta membuat gerakan survive ditengah ide dan gempuran gerakan yang tidak menggunakan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman.

Panelis juga memberikan pandangan terkait sistem kaderisasi gerakan mahasiswa muslim yang pada awal prosesnya harus berorientasi pada penguatan Aqidah. Hal ini berkaca kepada metode perjuangan Rosululloh yang memulai perjuangan di mekkah dengan penanaman Aqidah di hati tiap orang yang pertama kali masuk islam. Rosul bukan melakukan agitasi-propaganda terkait nasionalisme Arab untuk memulai pejuangan. Padahal jalan itu yang termudah saat itu untuk menggalang kekuatan dan mengajak kepada islam. Tapi dikarenakan Aqidah sebagai pondasi haruslah lebih kuat dari rasa nasionalisme kewilayahan itu, maka penguatan Aqidah adalah hal yang paling logis dilakukan dalam tahap awal proses kaderisasi gerakan islam. Terejawantahkan dalam bentuk penekanan aktivis yang harus rajin solat, mengaji, serta tidak menyekutukan Allah dalam segala aspek (Rububiyah, Uluhiyah, Mulkiyah, Asma Wa Shifat).

Sebagai penutup, dikutip sebait kalimat buah pemikiran Sayyd Quthb akan rahasia perjuangan, bahwa rahasia perjuangan tidak akan didapat dari buku-buku dan kata orang, tapi dari pahit getir perjuangan.

Umar – Departemen Kebijakan Publik KAMMI Bandung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top