Tips Memilih Dosen Pembimbing

DSC05277Sebelumnya saya ingin membuka tulisan ini dengan pesan peringatan bahwa kejadian ini belum tentu terjadi kepada kalian yang sedang mengambil mata kuliah Tugas Akhir (TA)/Skripsi/Proyek Akhir (PA). Karena apa yang saya alami belum tentu terjadi juga kepada kepada kalian.

Siapa yang tidak mengenal dosen pembimbing jika kita sudah menginjak semester akhir perkuliahan. Selain dijadikan sebagai tempat curhat, dosen pembimbing juga berperan sebagai orang tua akademik agar TA/skripsi/PA yang kita kerjakan tetap pada track yang benar.

Namun adakalanya kita seperti seakan salah dalam memilih dosen pembimbing. Ketika kita mendatanginya di ujung barat, ternyata sang dosen berada di ujung timur. Kemudian kita samperin ke ujung timur, ternyata sang dosen sudah keburu pergi ke ujung utara. Dan begitu seterusnya seiring bumi berotasi pada porosnya.

Kemudian pernah suatu kali kita sudah janjian dengan dosen pembimbing, namun dosen yang ditunggu tak kunjung datang. Atau mungkin dari kaca mata dosen, kita yang tidak datang karena bangun kesiangan. Pernahkah kalian mengalami hal tersebut?

Yap, kalau kalian pernah mengalami hal itu, SELAMAT !! Kalian pernah merasakan indahnya masa-masa kuliah. Masa-masa dimana akan terkenang oleh kalian semua yang sudah menyelesaikan TA/Skripsi/PA bahwa mencari ilmu itu memang butuh perjuangan.

Tetapi problematika yang sudah disebutkan diatas tetaplah menjadi sebuah problem yang harus dipecahkan. Minimal diminimalisir kejadian-kejadian seperti itu agar TA/Skripsi/PA yang kita kerjakan menjadi semakin mudah. Siapa yang gak mau kemudahan coba? So, kita membutuhkan sebuah teknik untuk memilih dosen pembimbing. Disini saya ada dua tips berdasarkan pengalaman terkait pilih-pilih dosen pembimbing. Setidaknya dengan dua tips ini saya mampu dan terbantu dalam proses penyelesaian TA.

  1. Cari dosen muda.
    Mengapa dosen muda? Pernah mendengar lagu Bang Haji Rhoma? Masa muda adalah masa yang berapi-api. Yap, kecenderungan masa muda itu tentu bukan hanya milik mahasiswa seperti kita saja, tetapi juga milik para dosen muda. Dari hasil pengamatan saya, rata-rata dosen muda memiliki karakter semangat, senang meneliti hal baru, dan secara verbal mudah dalam berkomunikasi dengan kita sebagai mahasiswa yang umurnya tidak terlampau jauh darinya. Dengan beberapa karakter muda seperti itu, proses belajar-mengajar dalam penyelesaian TA/Skripsi/PA akan semakin mudah. Dosen pun tak segan-segan untuk membantu kita seperti misalnya memberikan paper acuan, berdiskusi seputar idealisme mahasiswa, sharing pengalaman spektakuler, serta memberikan harapan, pesan,  dan motivasi kepada kita sebagai mahasiswa yang akan bergelar sarjana dalam waktu dekat !
  2. Cari dosen muda yang ahli.
    Buat yang sudah pernah sidang TA/Skripsi/PA, pasti pernah dong ngerasain yang namanya dibantai dosen penguji saat sesi tanya jawab? Nah itu dia kata kuncinya, dibantai. Terus gimana caranya biar gak dibantai saat sidang TA/Skripsi/PA? Ya cari dosen pembimbing yang ahli dong. Dengan memiliki dosen pembimbing yang ahli, maka mau tak mau kita akan ketularan ahli saat proses pengerjaan TA/Skripsi/PA. Terlebih kalau mendapatkan dosen pembimbing muda lagi profesor/doktor, wah itu mah namanya ketiban rezeki. Kok bisa? Nih biasanya secara psikologis, dosen penguji juga ada rasa saat ingin membantai seorang mahasiswa yang dosen pembimbingnya adalah seorang profesor/doktor. Kemudian peluang kita untuk dibantai sama dosen hebat bakalan kecil. Karena dosen yang hebat udah berdiri di belakang kita sebagai pembimbing, bukan penguji yang faca to face dengan kita saat proses sidang. Kecuali kalau dosen pengujinya juga profesor/doktor. Yaudah itu mah nasib kita aja. Bisa-bisa ngomong aja dah pas sidang itu mah !

Yap, itu dua tips bagaimana memilih dosen pembimbing. Semoga membantu buat kalian yang sedang dan akan mengerjakan TA/Skripsi/PA. Semangat ya ! Ingat, setiap kalian mengundur waktu sidang satu hari, maka waktu menikah kalian akan mundur satu hari juga*

*hanya berlaku bagi yang ingin menikah, namun syarat dari orang tua harus lulus kuliah dulu 🙂

3 Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top