Qolbun Salim

m_8Jadi ada sesi sharing di pengajian tentang Qolbun Salim. Diartikan ke dalam bahasa indonesia adalah Hati yang Suci/Lurus/Bersih. Dalam pandangan subjektif saya, tema ini sangat pas sekali dibahas buat anak-anak muda seperti saya dan anda-anda. Terlebih bagi yang baru saja menyelesaikan masa studinya di kampus. Kok bisa ? Yap, pasca kampus kita akan melangkahkan kaki kita ke dunia pekerjaan, baik itu menjadi karyawan kantoran, guru, dokter, atau yang berwirausaha/berdagang. Tetunya itu pilihan masing-masing diri kita ingin menyalurkan dan mengembangkan keahlian kita pada posisi apa. Namun diantara banyak pilihan yang berbeda-beda itu, kita semua memiliki kesamaan. Ya, kita memiliki apa yang disebut Hati.

Bagi sebagian kita, mungkin apa yang didapatkan di dunia pekerjaan tidak sesuai dengan apa yang diekspektasikan. Misalkan kita ingin bekerja di perusahaan yang sesuai dengan konsentrasi studi kita di kampus, namun setelah submit CV kesana-kemari perusahaan yang diimpikan tak kunjung didapat. Atau mungkin kita menginginkan gaji yang besar, namun karena kita minim pengalaman/fresh graduate maka gaji yang kita dapat pas-pasan. Dilain kasus kita membayangkan uang yang banyak dari hasil jual dagangan, namun yang terjadi dagangan kita tidak laku terjual.

Ditengah problem seperti itu, kita juga tertekan dan dituntut untuk terus belajar dewasa, bertahan hidup, sekaligus membantu pembiayaan kehidupan keluarga. Namun hasil dari pekerjaan yang kita dapat jika dihitung-hitung sangat pas-pasan sekali atau bahkan terbilang kurang. Dari hal seperti itulah akan muncul di hati kita benih-benih ketidakpercayadirian dan keputusasaan. Saya memandang itu adalah hal yang manusiawi.

Memang dorongan pertama itu butuh tenaga yang ekstra. Seperti yang pernah kita sama-sama pelajari dalam ilmu fisika, bahwa mendorong sebuah mobil mogok dari keadaan diam pasti membutuhkan gaya dorong yang kuat. Tapi ketika mobil sudah bergerak, gaya dorong yang harus kita keluarkan tidak perlu sebesar gaya permulaan bukan ?

Karenanya tak terelakkan lagi kita akan berpeluh-peluh dengan keringat dan perasaan saat pertama kali kita menapakkan kaki di dunia kerja pasca kampus. Yang perlu dibangkitkan adalah memotivasi diri bahwa ada cita-cita yang kita kejar, ada sesuatu yang kita perjuangkan, dan ada harapan yang kita terus munajatkan agar sesuai dengan kenyataan.

Nah dalam session sharing yang saya sampaikan di awal, karena manusia memiliki sesuatu yang sama yaitu Hati, guru saya menambahkan satu faktor penting berupa keluasan hati. Guru saya mengibaratkan hati manusia itu harus seluas samudera. Samudera yang lazim diketahui adalah lautan yang sangat luas. Benda apapun yang masuk ke samudera, maka tidak membuat samudera itu keruh. Sekeruh apapun air sungai jakarta yang ada di muara, ia tidak akan membuat keruh samudera. Ketika hati kita seluas samudera, apapun kejadian dan betapapun beratnya cobaan akan kita hadapi dengan tenang.

Lain hal jika hati kita hanya seluas gelas. Sebesar apapun gelas, tidak akan melebihi luasnya samudera. Gelas berisi air ketika dimasukkan teh celup kedalamnya maka akan berubah airnya menjadi cokelat seketika. Atau katakanlah dimasukkan serbuk kopi kedalamnya, air akan berubah menjadi hitam seketika. Karena itu janganlah hati kita menjadi seluas gelas. Ketika mendapat sedikit celupan cobaan maka kita akan dilanda kemurungan dan keputusasaan yang berkepanjangan.

Begitulah hati manusia, dia harus sangat lapang. Lapang ketika menerima musibah. Lapang ketika menerima ujian atau cobaan hidup. Agar segala perasaan dan sekelebat keluhan yang bermuara di hati manusia segera ternetralisir. Pada akhirnya akan timbul ketenangan, sesuatu yang dicari manusia dalam kehidupannya.

Dan terakhir, mungkin tepat juga pembahasan Qolbun Salim ini jika dikaitkan dengan mereka yang sedang menunggu pendamping hidup. Bersikap tenang dan bersabarlah.

-Sore hari di kantor Smartfren BSD-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top