Tentang Pernikahan

Suatu ketika, ada seorang calon bayi yang berada di dalam rahim. Dia hendak dilahirkan ke dunia. Namu sang calon bayi meminta kepada Tuhan agar tidak dilahirkan ke dunia. Karena bagi sang calon bayi dunia terlalu tidak aman, sementara di dalam rahim tempat yang aman. Lalu Tuhan berkata bahwa ketika calon bayi lahir ke dunia, akan ada dua malaikat yang menjaganya, manyayanginya, merawatnya, dan selalu cinta kepadanya. Akhirnya sang calon bayi meminta untuk dilahirkan. Namun sebelumnya bertanyalah dia kepada Tuhan, kiranya siapa nama dua malaikat itu. Tuhan pun menyampaikan bahwa tak terlalu penting siapa nama dua malaikat itu, namun mereka biasa dipanggil dengan Ayah dan Ibu.

Kiranya seperti itulah sebait paragraf yang saya ingat dari ucapan pembawa acara ketika kemarin Minggu (15/2/2015) saya mengantarkan teman sedari kecil di komplek untuk melangsungkan akad nikah di depok.

Betapa harunya, sejak SD kami sering main gundu dan bola bareng-bareng. Karena umur berbeda 2 tahun, kami dipisahkan ketika dia beranjak SMP lebih dahulu. Model sekolahnya adalah pesantren. Sebelum pergi, dia sempat membagi-bagikan gundunya kepada saya dan teman-teman yang lain sebagai tanda perpisahan. Dia bertekad akan konsentrasi untuk belajar di sekolah barunya.

Setelah tiga tahun, dia selesai bersekolah dari pesantren dan masuk SMA IT di dekat komplek rumah. Namun sekarang posisinya saya yang berada di pesantren, karena saya melanjutkan sekolah SMP dengan pilihan pesantren juga. Hasilnya, kami tidak bertemu.

Setelah tiga tahun bersekolah saya lulus dan kembali ke komplek, namun saya tidak menemukan dia karena telah lulus SMA dan berkuliah di UNSOED Purwokerto. Begitupun setelah 5 tahun dia berkuliah dan kembali ke komplek, kami juga tidak bertemu karena sekarang giliran saya berkuliah di bandung. Sampai akhirnya kami bisa bertemu kembali saat sama-sama telah bekerja. Dan dia membawa oleh-oleh berupa kabar baik undangan pernikahannya.

Awalnya saya berhalangan hadir di acara pernikahannya karena ada agenda di Bandung. Kemudian saya meminta pendapat ibu saya, dan ibu berkata bahwa dahuluilah tetangga karena jika kita meninggal maka tetangga kita yang akan memandikan, menyolatkan, dan menguburkan kita. Ok, saya hadir di pernikahannya. Alhamdulillah ditambah dengan ikut serta menjadi supir mengantarkan rombongan keluarganya. Otomatis juga melihat prosesi akad nikah berupa ijab qobul antara dia dan wali dari sang perempuan.

Terkait pernikahan, kadang saya suka merenung bahwa pernikahan itu adalah hal yang amat berat. Sulit dijalani namun kita akan tetap harus melewati jalan itu. Bahkan digambarkan dengan kalimat agama sebagai “perjanjian yang amat kuat”. Berarti mengharuskan kesiapan lahir, batin, finansial, dan keluarga. Ditengah renungan saya, biasanya ibu menguatkan dengan statement bahwa menikah adalah urusan aqidah. Allah akan mencukupkan semuanya selama niat menikah didasari atas rasa penghambaan diri kepadaNya atau ibadah. Sebagaimana yang termaktub dalam surat An-Nuur  ayat 32,

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (An Nuur: 32)

Pernikahan teman saya kemarin menghentak relung saya. Bahwa sebuah peristiwa peradaban sedang berada di depan mata saya. Sebuah perjanjian yang menggoncangkan singgasana sedang berlangsung di depan mata saya. Bagaimana bentuk pengejawantahan keimanan sedang dilakukan oleh dua orang insan. Tak pernah saya sedalam ini melihat prosesi pernikahan. Atau mungkin alam jiwa saya sedang bersentuhan dengan alam realita yang sedang saya saksikan saat ini? Entahlah.

Kemudian faktor orang tua. Bagaimana gerak tubuh teman saya dan tatapan kepada kedua orang tuanya saat prosesi sungkeman, memberi arti bagi saya bahwa dulu kami yang pernah kecil, bermain, dan disuapin makan oleh orang tua kami, sekarang akan mencoba untuk mengarungi kehidupan yang penuh perjuangan. Namun bukan bersama orang tua lagi, melainkan bersama orang lain yang sudah menjadi pasangan sah saat ijab qobul telah diucapkan kedua belah pihak. Tak salah Nabi pernah bersabda bahwa orang tua yang memiliki anak laki-laki akan menggenggam dunia, dan orang tua yang memiliki anak perempuan akan menggenggam syurga. Karena anak laki-laki digariskan bertanggung jawab terhadap ibunya walaupun dia telah menikah. Dan orang tua harus merelakan anak perempuan yang dibesarkannya penuh cinta untuk dibawa seorang laki-laki. Begitulah yang sudah digariskan Allah.

Tak terasa setetes air mata dengan sendirinya keluar dari ujung mata kanan dan kiri. Saya dan teman-teman yang lain (anak band metal) terharu melihat prosesi sungkeman teman kecil kami itu. Kami membayangkan diri kami dengan kalimat “perasaan kita masih kecil deh”. Kami juga membayangkan bagaimana jika yang berada di depan sana adalah diri kami yang sedang melaksanakan prosesi akad nikah serta sungkem kepada kedua orang tua kami yang telah menua. Sedih dan bahagia bercampur.

Jpeg

Foto sengaja di blur

Selamat kepada teman kami karena sudah memiliki pasangan yang halal. Baru kali ini saya meresapi lebih dalam prosesi sakral itu. Dan baru kali ini pula saya melihat anak metal meneteskan air mata. Satu rasa dari kami, terima kasih ayah dan ibu. Sudah merawat dan membesarkan kami di komplek ini, sehingga kami bisa kenal satu sama lain.

-bumi serpong damai

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top