Napak Tilas : Mencari Semangat Mahasiswa Yang Redup

Ini hanya sebuah cerita yang ingin dituliskan pada waktu malam. Sambil menikmati dinginnya hujan di Serpong, Tangerang Selatan. Sudah lama tidak bergabung dengan aktivitas mahasiswa yang kesehariannya diisi dengan kesibukan; baik berorganisasi, berdiskusi, atau bentuk lainnya seperti olah raga fisik. Alasannya cukup simple, aku sudah sibuk sendiri berkutat dengan pekerjaan kantor yang tidak ada habisnya. Karenanya, momentum libur pekanan di 29,30,31 Agustus 2015 ku manfaatkan untuk kembali merenung sejenak di kota yang bersejarah bagi perjalanan hidupku, Bandung.

28 Agustus 2015, pukul 10 malam waktu Indonesia bagian Depok, ku pacu sepeda motor matic ku untuk menuju Bandung. Malam yang cerah, cocok untuk bepergian jauh dengan kecepatan penuh. Terbilang 3 jam aku sampai di Bandung. Tujuan pertama adalah lokasi acara Rapat Pimpinan Wilayah KAMMI Jawa Barat, Hotel Baltika di Jalan Gatot Subroto. Sengaja ku pilih tempat itu karena dua alasan, pertama tempat istirahatnya nyaman, kedua aku mau bertemu sahabat seperjuangan di panasnya aspal jalanan. Berbagi kisah adalah bahan obrolan yang menarik. Terlebih lagi ketika membahanas rencana di masa depan. Banyak hikmah yang bisa diambil dari berbagai peristiwa. Apalagi ketika berbicara dengan para aktivis yang masih menyandang status mahasiswa. Mereka identik dengan muda, beda, berbahaya. Tidak berbeda jauh seperti lirik lagu band SID. Aku kembali merenung setelahnya, mencoba untuk mencuri muda, beda, dan bahaya yang mereka miliki. Tarik nafas ….

Jpeg
Jalan Soekarno Hatta, Bandung

29 Agustus 2015, pukul 9 pagi waktu Indoesia bagian Bandung, tujuan selanjutnya adalah rumah beberapa dosen yang telah membimbingku selama berkuliah di Bandung. Yang pertama adalah dosen kalkulus. Singkatnya, pesan yang kudapat dari obrolan dengannya adalah “rezeki adalah apa yang kita nikmati, rumah besar namun yang kita nikmati adalah kamar, karena itulah yang kita selalu pakai. begitupun makanan, sebanyak apapun makanan yang ada, rezeki kita adalah apa yang kita makan dan masuk ke perut. kalau dipikir-pikir, seperti itulah hidup”. Cukup dalam bukan hikmahnya? Kita merasa selalu tidak puas dengan apa yang kita miliki. Namun kita kadang memang suka lupa bahwa yang kita miliki tidak semuanya dinikmati oleh kita. Tarik nafas …

Masih 29 Agustus 2015, pukul 1 siang waktu Indonesia bagian Bandung, tujuan selanjutnya adalah sekretariat ASTACALA, sebuah UKM pecinta alam di kampus tempat ku belajar mengenali eksistensi diri di hamparan alam semesta yang luas ini. Bawa satu gentong ayam KFC sebagai oleh-oleh namun sayang, mahasiswa masih libur kuliah. Hanya ada beberapa anggota saja di sekretariat. Sekretariat ini yang saya jadikan basecamp sementara selama ada di Bandung. Mengistirahatkan badan disini untuk aktifitas selanjutnya. Tarik nafas ….

Jpeg
Wall Climbing

30 Agustus 2015, pukul 5.30 pagi waktu Indonesia bagian IT Telkom, lari pagi mengelilingi kampus sebanyak 5 kali. Rencananya menemani latihan seorang atlet panjat tebing yang akan ikut kompetisi di kampus UI tanggal 15 Agustus 2015. Dilanjut dengan latihan wall climbing. Badan bugar, otot kekar, fisik sehat. Namun sungguh melelahkan. Tapi aku gak mau kalah dengan atlit panjat tebing yang sedang latihan. Dia angkatan 2014. Baru genap satu tahun kuliah di kampus. Tapi memang yang muda, beda, berbahaya. Aku termenung sejenak sambil memperhatikannya latihan. Masa muda memang masa yang berapi-api. Dimana fisik dalam kondisi di puncak kekuatannya. Tarik nafas ….

Masih 30 Agustus 2015, pukul 11 siang waktu Indonesia bagian IT Telkom, tujuannya adalah bertemu dosen yang menyediakan peralatan dan tempat untuk menyelesaikan Tugas Akhir dulu. Beliau akan kuliah S3 di Jepang dalam waktu dekat. Yang ingin ku tiru darinya adalah semangat untuk meneliti. Tergolong dosen muda. Sangat bernafsu untuk makan jika disuguhkan sepiring ilmu pengetahuan.

Masih 30 Agsutus 2015, hanya bergeser beberapa ruangan di satu gedung, tujuan selanjutnya adalah dosen pembimbing 1. Kutemui beliau sedang bersama anak perempuan pertamanya. Aku merenung dan berfikir, bagaimana jika aku memiliki anak suatu hari nanti. Aku akan sangat senang ketika menggendongnya, melihatnya tersenyum lucu, menangis atau tertawa. Pantas jika ibu ku pernah bilang, bahwa aku dan adik-adik ku adalah anugerah yang tak ternilai. Seperti itukah rasanya memiliki anak ? Aku berharap bisa merasakan kondisi itu bersama isteri ku nantia. Tarik nafas ….

Masih 30 Agustus 2015 namun pindah kampus. Sekarang latar belakangnya adalah kampus besar di Bandung. Kampus dengan patung gajah duduk. Aku menemui dosen pembimbing 2. Beliau seorang profesional dalam hal jaringan. Dikisahkan dulu bekerja di perusahaan swasta. Kemudian banting stir ke dunia akademik. Pernah suatu kali ku tanya alasannya, yang terngiang dalam kepalaku terkait jawabannya adalah “seperti ada yang kurang jika ilmu tidak dibagi”. Sungguh menggugah semangat, semangat untuk mengabdi bagi generasi di negeri ini. Aku pun mengaminkannya. Ingin suatu saat aku menjadi dosen. Berbagi kepada mahasiswa cara-cara agar negeri ini semakin baik. Diakhir pertemuan dengan beliau, ada 2 hal yang tidak boleh dilupakan oleh ku; pertama integritas dan kedua kapasitas. Menjaga dua hal itu maka diri ini akan terjaga di dunia pekerjaan. Nasehat dari seorang pakar. Tak lupa beliau menyarankanku membaca buku psikologi (non-teknik). Tarik nafas …

Jpeg
Gunung Manglayang dikejauhan

Lompat jauh ke 31 Agustus 2015, pukul 3 sore. Tujuan selanjutnya adalah kembali ke Depok, kota dimana aku dibesarkan. Namun seakan jiwa menolak. Aku masih mau di kampus, di sekretariat ASTACALA. Menjadi muda, beda, berbahaya. Tapi aku tak berdaya. Aku memiliki tanggung jawab pekerjaan dihari sabtu. Jiwa ku berkompromi terhadap situasi. Berat hati ku tinggalkan bandung dengan segala kenangan pahit-manis-nya. Aku akan meninggalkan flyover Kiaracondong dimana aku bisa takjub melihat gunung Manglayang, gunung Tangkuban Perahu, dan pegunungan di Bandung Selatan. Aku akan meninggalkan flyover Cimahi dimana aku bisa lebih jelas melihat Gunung Tangkuban perahu dan Gunung Burangrang disampingnya. Ketahuilah sobat, itu adalah pemandangan yang indah. Tarik nafas ….

Masih 31 Agustus 2015, sekitar pukul 8 malam waktu Indonesia bagian Cianjur. Agak lupa bilangan waktunya, karena aku teringat akan kondisi masa lampau sekali ketika pulang ke Depok diwaktu malam dengan kondisi yang sama, yaitu hujan lebat di daerah Cianjur sampai Puncak Bogor. Dinginnya air hujan ditambah dengan dinginnya angin pegunungan, kembali membuka memori lama saat aku di hutan bilangan Bandung Selatan. Saat itu kondisi sungguh dingin dengan hujannya yang turun lebat. Kondisi yang sangat kacau. Yang dibutuhkan adalah hangatnya api. Tarik nafas ….

Jpeg
Ini dia

Rindu menjadi muda, beda, berbahaya. Namun aku merasa masih muda, beda, berbahaya. Namun dengan cara lain, seperti misalnya membagikan kabar bahagia ke Bandung dengan sepeda motor. Kabar bahagia pernikahan. Dan ternyata aku masih kuat 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top