Hari Ibu : Saatnya Mengambil Hikmah Dari Sejarah Hidup Bersamanya

Aku akses situs google dan menemukan animasi hewan betina dan sesosok perempuan yang memanjakan anak-anaknya. Oh ya, 22 Desember ini dikenal sebagai Hari Ibu katanya.

Aku mungkin dikenal di kalangan keluarga sebagai orang yang tidak mau mengucapkan “selamat” di hari-hari tertentu, misalnya saat ada yang ulang tahun. Bukan maksud karena tidak sayang, namun lebih karena prinsip bahwa berulangnya hari/bulan/tahun merupakan suatu kesempatan bagi yang mempunyai hajatan untuk merenungi perjalanan hidup dan mengambil hikmah yang berserak. Pun saat ini 22 Desember, yang sebagian besar orang bilang ini adalah Hari Ibu.

goo

Sengaja ku buat tulisan ini karena hari-hari yang aku lalui sejak lahir sampai sekarang selalu saja dekat dengan yang namanya sosok perempuan. Ya, mereka adalah ibu ku, kedua adik perempuan ku, dan istri ku.

Semenjak aku menikah dan kami berdua (dengan istri) menyadari bahwa istri ku tengah hamil, kemudian dilanjutkan dengan minggu-minggu awal kehamilan sampai sekarang terhitung minggu ke-8, satu hal yang ada di pikiran ku, betapa besarnya pengorbanan sosok perempuan itu sampai nantinya mereka akan dipanggil “ibu”.

Minggu-minggu awal kehamilan selalu saja kulihat istri ku mual-mual, kelelahan, dan keram di perut. Itu semua karena ada embrio yang terus bertumbuh di dalam perutnya. Ku lihat nampaknya hari demi hari dilalui dengan situasi yang bagi sebagian orang itu terlihat sakit. Saat itulah aku jadi membayangkan ibu ku di masa-masa awal kehamilannya. Ada aku di dalam perutnya. Yang membuat ibu ku lelah, mual-mual, dan sakit perutnya. Sejenak ku lihat, istri ku tidak menyerah. Dan begitu pula ibu ku ketika bercerita tentang ketidakmenyerahannya saat aku semakin membesar di dalam perutnya. Itulah juga salah satu alasan yang menjadikanku ingin sekali melindungi perempuan yang ada di sekeliling ku (i.e Ibu, Adik perempuan, Istri ku). Aku melakukannya sebagai rasa “salute” ku kepada mereka. Walau mungkin kadang cara ku terlihat berlebihan sehingga aku dibilang terlalu posesif. Tapi bagiku, apalah arti sebutan itu, aku hanya ingin kalian selamat, sehat, dan merasa dicintai/diperhatikan/dilindungi.

Berabad silam ternyata agama ku (islam) telah mengajarkan apa yang menjadi fitrah manusia. Setiap manusia akan mencintai ibunya, dan islam memuliakan ibu dengan pernyataan taat kepadanya lebih utama dari taat kepada bapak, tentunya taat dalam kebaikan. Namun di lain sisi, aku juga bingung melihat realita yang ada. Banyak berita yang aku lihat dan baca, menampilkan sesosok ibu yang kejam kepada anaknya. Dan hal paling kejam yang dilakukan seorang ibu menurut ku adalah membiarkan anaknya tanpa pendidikan dan nasehat-nasehat agama. Karena dampaknya akan terlihat bertahun kemudian setelah anak tersebut tumbuh dewasa kemudian mengisi ruang-ruang kehidupan di bumi ini.

Ada contoh lain juga, ketika surga dinyatakan berada di telapak kaki ibu, namun ibu yang menjadi surga buat anak-anaknya itu malah berjoged ria di acara televisi yang tidak mendidik. Ah kenapa dengan negara ku ini. Program perlindungan ibu dan anak ditebarkan tetapi di lain sisi industri perusak ibu dan anak di pelihara. Sungguh naif sekali.

Karenanya 22 Desember ini harus bisa kita jadikan sebagai momen untuk membaca ulang sejarah kehidupan bersama ibu serta memaknainya. Bagi ibu/calon ibu, mengapa menjadi ibu adalah sebuah kehormatan besar sebisa mungkin dimaknai secara mendalam. Agar nantinya peran ibu dalam menemani anak-anak bisa optimal. Dan kepada anak-anak, mengapa menjadi anak yang soleh/solehah itu menjadi hal terpenting dalam hidup harus bisa dimaknai juga secara mendalam. Karena ternyata dengan taatnya anak-anak terhadap orang tuanya menjadikan kehidupan mereka akan selalu dalam keberuntungan. Dan yang paling penting adalah memaknai kesadaran bahwa cinta antara ibu dan anak itu adalah cinta sampai ke syurga. Bukan cinta hanya di dunia karena kelak jasad ini akan berpisah.

Cinta sampai ke syurga memiliki arti bahwa seorang ibu memberikan nutrisi jasad, nutrisi otak, dan nutrisi rohani secara seimbang kepada anak. Yang dengannya akan tumbuh anak yang soleh/solehah dan nantinya menjadi amal jariah bagi kedua orang tuanya. Bukan hanya cinta di dunia yang boleh jadi antara ibu dan anak kelak di akhirat akan saling menuntut dan bertengkar seperti yang telah dikisahkan oleh nabi dan sahabat-sahabatnya dahulu sebagai pembelajaran bagi ummat manusia. Na’udzubillaahimin dzaalik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top