Pengalaman Membeli Properti Syariah (1)

Saya mau berbagi pengalaman saya dalam membeli propeti syariah. Pengalaman orang lain mungkin tidak selalu sama. Adapun yang saya alami, semoga tidak lantas digeneralisir bahwa membeli properti syariah akan selalu begini jadinya. Lebih untuk mempersiapkan diri atas kemungkinan yang bisa terjadi. Semoga ada hikmah yang bisa diambil dari cerita ini.

Sebagai keluarga baru, salah satu keinginan yang paling menggebu – gebu tentunya memiliki rumah sendiri. Secuil tanah untuk tempat bernaung dari panas dan hujan. Dihitung – hitung dari penghasilan, yang bisa ditabung per bulannya sekian. Kalau mau segera memiliki rumah, opsi yang paling mungkin ya mencicil.

Kebetulan juga, beberapa tahun terakhir ini lagi lumaya rame promosi properti syariah, opsi membeli rumah dengan cara mencicil tanpa riba, tanpa berhubungan sama bank, jadi mencicil langsung ke developer.

Searching – searching, pas banget nemu salah satu proyek properti syariah di daerah deket kantor. Langsung lah survey kesana. Waktu itu tanah yang dibilang mau jadi lahan proyek masih ditanami kebun singkong. Daerahnya lumayan enak, deket pesantren, deket perkebunan pohon – pohon jati, menjanjikan lah pokonya. Harga rumahnya juga ngga terlalu mahal. Dihitung – hitung tabungan, cukup buat bayar dp dan cicil bulanan. Opsi cicilan mulai dari 5 tahun, 10 tahun, sampai 15 tahun, flat sampai akhir.

Tanpa riba, tanpa sita, tanpa denda. Tinggal di kawasan perumahan muslim, memiliki tetangga – tetangga sepemikiran, harga rumah yang murah. Promo yang begitu memikat membuat kami melupakan hal – hal penting yang seharusnya diperhatikan. Dan kami baru menyadarinya setelah akad, setelah menyetor dp, dan mulai mencicil bulanan.

Kami luput meminta lihat surat kepemilikan tanah yang akan dibangun. Di keberjalanan, ternyata sempat ada insiden sengketa bahkan sampai masuk berita online. Meskipun memang, ternyata pemilik proyek memiliki hak kepemilikan lebih jelas dan proyek yang bagus ini juga mendapat dukungan dari ormas dan warga sekitar, sehingga perihal sengketa ini tidak terlalu menjadi masalah

Manajemen proyek ini dipegang oleh 3 orang, kita sebut saja Pak A sebagai penggagas yang memiliki ilmu tentang penjualan properti syariah, yang suka mengisi pelatihan – pelatihan dan menyebut dirinya coach properti syariah, Pak N sebagai orang yang berpengalaman menjadi developer konvensional sekaligus yang punya tanah proyek, sebagai pimpinan lapangan proyek, dan terakhir Pak H yang merupakan murid pak A, memegang manajemen dari proyek dan hal – hal yang berhubungan dengan pembeli.

 

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top