Pengalaman Membeli Properti Syariah (2)

belum baca part 1? coba klik disini

Ok. Sebelum melanjutkan cerita, saya ingin membagi sedikit motivasi saya menuliskan pengalaman ini. Sewaktu awal akan membeli properti syariah, saya mencari tulisan orang – orang tentang pengalaman membeli properti dengan sistem syariah yang baru booming ini, dan hasilnya? hampir nihil. Yang banyak beredar malah iklan marketing properti syariah di berbagai daerah. Testimoni dari konsumen sendiri sangat sedikit saya temukan, sehingga saya tidak tahu bagaimana sih jadinya proyek – proyek syariah yang sudah diluncurkan ini? Jadi saya harap teman – teman yang sudah memiliki niat baik memiliki properti dengan sistem syariah, bisa mendapat hikmah dari pengalaman yang sudah saya alami sendiri.

Hal pertama yang saya lakukan untuk meyakinkan diri adalah mencari tahu tentang kredibilitas developer serta orang – orang yang mengerjakan proyek ini. Saya search di google, tapi ngga terlalu banyak yang saya dapatkan. Saya search nama – nama orang pemegang manajemen proyek, ngga terlalu banyak juga yang saya dapatkan. Kemudian saya menghubungi seorang teman yang sempat berkecimpung di komunitas dpsi (developer properti syariah indonesia), siapa tahu dia mengenal orang – orang yang memegang proyek ini. Ternyata teman saya tahu tentang Pak A, dan dia kurang merekomendasikan hasil kerja Pak A.

Qadarullah waktu itu, akhirnya saya tetep jadi berakad membeli rumah di proyek syariah tersebut. Akad yang digunakan adalah akad istishna. Saya berakad dengan Pak H dengan format surat PPJB yang sudah ada, tanda Рtangan dua pihak di atas materai, dan saling bertukar fotokopi identitas (KTP).

Suatu hari, saya sedang berkunjung ke tempat proyek, waktu itu kebon singkongnya sudah dibabat dan tanah – tanahnya sudah mulai dikavling. Saya bertemu dengan seorang bapak – bapak, kelihatannya beliau juga membeli rumah disitu. Calon tetangga nih pikir saya, ngga ada salahnya berkenalan. Berkenalan dan ngobrol – ngobrol, dari beliau saya tahu ternyata beberapa pembeli sudah membuat grup whatsapp, sayapun minta dimasukkan ke dalam grup tersebut. Alhamdulillah jadi ada teman – teman untuk terus update informasi terkait progres proyek.

Bulan demi bulan saya bayar cicilannya, sebelum tanggal 5 setiap bulannya. Sambil terus memantau progres pengerjaan proyek di lapangan. Di bulan ke 6 saya melihat proyek seperti tersendat – sendat bahkan tidak berjalan. Pak H yang biasa jadi jembatan komunikasi juga sudah semakin sulit dihubungi. Jika bertanya suka dilempar ke Pak B, Pak C, atau Pak D. Tapi saya tetap komitmen membayar cicilan. Dalam perjanjian, serah terima rumah akan dilakukan 1 tahun setelah akad. Adapun jika ternyata saat 1 tahun kondisi rumah belum siap, maka dapat dibicarakan lagi dengan konsumen. Apakah mau memberi waktu lagi kepada developer atau bagaimana. Dengan sabar saya menunggu 12 bulan dengan tetap membayar cicilan dan memantau terus progres.

Rumah contoh sudah jadi, bagian kavling yang katanya menjadi calon rumah saya juga sudah dibangun pondasi. Beberapa rumah bahkan sudah beratap. Saya terus menerus meyakinkan diri. Insya allah impian saya memiliki rumah akan segera terwujud.

 

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top