Tetangga

Jika mau melihat, ada sangat banyak hal – hal berharga di dunia ini yang tidak dapat dinilai dengan uang. Salah satunya adalah tetangga yang baik.

Ada sebuah kisah, entah fiktif atau nyata. Seseorang yang menjual rumahnya dengan harga sangat mahal, padahal rumahnya biasa saja dari segi lokasi, maupun bentuknya. Ketika ditanya, mengapa harga rumahnya mahal sekali? Dia menjawab “rumah ini memang sangat biasa, tapi tetangga disini yang sangat istimewa. Karena itu aku berani menjamin harga mahal ini adalah sesuatu yang patut”. Begitulah. Perkara rumahnya laku atau engga, saya engga tau… hehehe

Seorang bijak berkata, bahwa kita harus memperlakukan tetangga sebaik mungkin, saking baiknya, sampai hampir – hampir dikira bahwa tetangga akan ikut mendapat warisan (yang artinya, tetangga dianggap sama seperti saudara). Kalau mau lebih kepo lagi, sebenernya ini adalah hadits, dan orang bijak yang ngga bosan menasihati untuk berbuat baik pada tetangga ini adalah Rasulullah saw, yang menjenguk tetangga yahudinya sewaktu sakit, padahal si tetangga ini ngga suka banget sama Rasulullah saw.

Di pergantian Agustus 2016 kemarin, keluarga kecil kami pindah rumah kontrakan. Sebenarnya rumah sebelumnya lebih bagus dan lebih besar, tapi karena anggota keluarga kami bertambah 1, jadi kami mencari lokasi rumah yang dekat dengan penitipan anak. Kami mengontrak sebuah rumah kecil di sebuah komplek, 3 gang dari tempat penitipan anak yang kami incar.

Mulai tinggal disana 2 minggu setelah lahiran, kami membagikan sate kambing ke tetangga – tetangga. Ngga syukuran besar – besar, hanya pesen kambing aqiqah yang sudah dijadiin sate dan gulai, kemudian diplastikin kecil – kecil dan dibagiin ke tetangga satu gang. Sekalian berkenalan, supaya tetangga ngga kaget kalau – kalau dengar tangisan bayi malam – malam, dan minta maklum. Alhamdulillah tetangga nya baik – baik dan pada mafhum, bahkan excited begitu tau ada bayi baru lahir tinggal di gang ini. Dua ibu tetangga depan bahkan menengok dan membawakan hadiah. Sebagai ibu baru, pastinya ada perasaan ‘takut dijudge’, maklum deh ya, ibu – ibu senior kan suka komentar ini dan itu, jadi ketika ditengok ada perasaan ; ‘jangan – jangan gue salah, harusnya ga gini ga gitu’. Tapi surprise – surprise, para ibu tetangga ini ternyata baik banget, ngga ada ngejudge sama sekali.

Selanjutnya, dimulailah ikut debut selayaknya ibu – ibu komplek, ikutan arisan, posyandu dan majelis taklim. Arisan diadakan minggu ketiga setiap bulannya. Kalau majelis taklim tiap jumat malam, bergantian di rumah warga. Surprise lagi, kalau ikutan majelis taklim makanannya banyak banget, di tempat disuguhin makanan, trus pulangnya masih dibekelin juga. Posyandu setiap bulan, kalau bertepatan dengan jadwal imunisasi bisa sekalian juga. FYI posyandu adalah pilihan paling ekonomis untuk tempat imunisasi. Selain ekonomis, juga paling aman dari kemungkinan vaksin palsu yang beritanya pernah heboh beredar. Imunisasi di posyandu cuma bayar 10 ribu, bahkan sebenernya seikhlasnya, karena vaksin di posyandu udah dibeliin sama pemerintah. Cuma ya, vaksinnya yang dasar – dasar aja, yang udah masuk program pemerintah.

Hampir setahun disini, Alhamdulillah betah. Tetangganya baik – baik, terutama ibu tetangga depan. Banyak belajar dari beliau. Sering banget tiba – tiba ngetok pintu, ngasih makanan. Pagi – pagi jalan di halaman depan udah bersih disapuin. Kalau ngaji, disamper. Ada info – info, dibagi. Baiik banget deh pokonya. Sebagai keluarga muda masih perlu banyak belajar, sebagai ibu muda apalagi.

Life goes on. Setahun hampir berlalu. Agustus nanti insya allah kami akan pindah lagi. Kali ini ke rumah sendiri. Rumah perjuangan kami akan menyebutnya. Tempat kami akan mengukir banyak kenangan manis yang baru, insya allah.

 

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top