Heboh! Ternyata Begini Kelakuan Para Developer Properti Syariah…

Judulnya clickbait abis… lol. sebenarnya ini adalah part 3 dari cerita – cerita sebelumnya :

part 1

part 2

Pengalaman Membeli Properti Syariah (3)

Anyway, saya juga belum tahu sampai part berapa tulisan ini akan berakhir karena, yah, kebetulan sekali mood menulis sedang bagus dan saya ingin sekali membagi sebanyak – banyaknya pengalaman ini ke teman – teman. Supaya tidak ada hal yang terlewat. Stay tune dan semoga bermanfaat!

Lewat grup whatsapp sesama calon penghuni perumahan, saya jadi tau sejauh mana progres proyek berlangsung. Hampir setiap minggu ada yang dateng ke sana dan kirim foto – foto kondisi di lapangan. Udah berbulan – bulan saya ngga sempat kesana, maklum, kan baru lahiran dan punya bayi. Tau banget kan pasti, rempong. Lokasi proyeknya ngga jauh – jauh banget sebenernya, sekitar 15 menit lah dari kontrakan saya saat ini. Tapi jalanannya jalan provinsi yang lewat truk – truk gede dan debunya banyak minta ampun. Ngeri deh bawa bayi, belum ada mobil soalnya.

Kalau ngga salah di bulan ke – 7 atau 8 gitu, akhirnya saya dan suami berkesempatan dateng kesana. Dan eng ing eng, si Pak N malah curhat terjadi gonjang – ganjing di manajemen developer. Pak H yang semakin hari semakin sulit dihubungi ternyata sedang mengurus proyek lain. Iyah, proyek lain. Proyek ini belum kelar dia udah coba – coba ngurusin proyek lain. Kzl ga tuh? hehehe.

Yang lebih ngeselin itu Pak A, katanya bawa kabur uang konsumen. Jadi ceritanya ada beberapa konsumen yang akad dengan Pak A, transfer DP nya pun ke rekening pribadi beliau. Kemudian Pak A ada konflik dengan Pak H, trus Pak A pergi begitu saja membawa uang dan barang operasional berupa mobil. Udah, sejak itu gak pernah nongol itu Pak A, kayanya sibuk coaching – coaching properti syariah di tempat lain dan tebar proyek baru. Saya ngga tahu juga nasib orang – orang yang akad dengan Pak A, apakah masih nyambung komunikasinya apa engga. Alhamdulillah saya akadnya sama Pak H.

Dari ngobrol – ngobrol dengan Pak N, beliau masih berkomitmen dan berjuang untuk melanjutkan proyek ini. Beliau sangat kooperatif dan jujur memaparkan kondisi yang sedang terjadi, dan saya sangat menghargai hal itu. Beliau yang tadinya hanya memantau keberjalanan proyek di lapangan, berjanji akan segera membenahi manajemen dengan Pak H, sehingga konsumen tidak akan dirugikan.

Menurut Pak N, pembangunan proyek tersendat karena kurangnya dana. Ada 3 hal penyebabnya : pertama, karena ada uang dibawa lari Pak A, kedua, adanya rumah – rumah yang ‘diobral’ tanpa DP untuk memenuhi target penjualan, dan ketiga, banyaknya uang keluar untuk komisi pada marketing. Developer kekurangan dana segar untuk membangun fasilitas yang besar seperti jalanan, perlistrikan, air, dsb. Sementara untuk membangun, benar – benar hanya mengandalkan uang cicilan yang diberikan konsumen tiap bulannya.

Saya kurang tahu ya sebenarnya rencana awal pembangunan yang akan dilakukan developer seperti apa, karena sistem developer syariah ini berbeda dengan developer konvensional. Di developer konvensional, ketika rumah sudah laku, pembeli mencicil pada bank, tetapi developer mendapat cash dari bank. Cash dari bank inilah yang kemudian digunakan untuk melanjutkan pembangunan. Saya pikir si developer syariah ini pastilah udah punya hitung – hitungan gimana caranya beres ngebangun dengan cicilan orang – orang sekian. Asumsi awal loh ya. Salah saya juga si ngga nanya – nanya lebih detil di awal. Karena ternyata, di balik promo – promo menggiurkannya, perencanaan keuangan mereka belum matang sampai bisa mengalami macet proyek.

Dengan berbagai masalah yang terjadi, saya bersabar menunggu 12 bulan, sambil tetap membayar cicilan, sesuai perjanjian, Melihat progres lapangan kelihatannya rumah saya ngga akan bisa di-serahterima-kan tepat waktu. Rencananya setelah 12 bulan, saya mau minta uang saya kembali saja.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top