Pengalaman Membeli Properti Syariah (4)

Penantian dua bulan rasanya lamaaa sekali. Saya suka kepikiran, kira – kira duit saya bakal balik ga ya… Kadang suka susah tidur, trus istighfar. Trus doa, mencoba ikhlas. Kalau emang rezeki saya insya allah uangnya pasti balik. Tapi kalau ga balik gimana? Kepikiran lagi. Galau lagi. Nanti nyari pengacara aja apa ya. Yah kebayang ribet banget dong. Apalagi kalau ada sidang – sidangan, developernya juga kurang dana kali, gimana mau balikin duit coba. Astaghfirullah… Pasrah sama Allah. Mencoba santai dan melupakan. Kepikiran lagi. Dan begitulah siklus itu terus berputar selama dua bulan, hehehe.

Kira – kira sebulan sebelum waktu yang dinanti tiba, dapat kabar dari grup whatsapp, ternyata  developer sedang mencoba mengoper proyek. Saya kurang tahu jelasnya, tapi mereka sedang negosiasi dengan pihak lain untuk pindah tangan proyek. Beberapa waktu kemudian dikabari lagi, ternyata negosiasi ga berhasil, karena harganya ngga cocok. Kelanjutan proyeknya? Wallahu alam. Yang jelas saya udah ngga sabar banget nunggu sebulan lagi.

Kira – kira 2 minggu sebelum 12 bulan, Pak H muncul di grup (setelah sekian lama tak terdengar kabarnya). Dengan gagah berani beliau bilang “Mohon maaf kepada semua calon warga, setelah diskusi panjang diputuskan bahwa proyek perumahan ini dibatalkan. Adapun uang – uang yang sudah masuk ke pihak developer silakan dilist, lampirkan bukti – bukti transfer, akan diproses untuk dikembalikan akhir minggu ini”, kira – kira begitu isi pesannya.

Maasya Allah, kucek – kucek mata. Ngga salah ni pesennya? “Semuanya pak? booking fee + dp + cicilan – cicilannya juga?” kata saya. “Iya” kata beliau. Alhamdulillah… tanpa harus belibet – libet urusan, Pak H sendiri yang menyanggupi pengembalian uang. Buru – buru saya kumpulkan bukti transfer dan kuitansi pembayaran uang yang pernah saya kirimkan. Kemudian saya kirimkan bukti – bukti itu ke developer. Alhamdulillah, akhir minggu itu uang saya kembali, utuh. Alhamdulillah masih rezeki… Walaupun saya akhirnya batal berjodoh dengan rumah di sana.

Saya apresiasi tanggung jawab Pak H untuk mengembalikan uang – uang konsumen yang sudah masuk. Saat uangnya sudah saya terima, saya kabari Pak H, dan saya bilang “Terima kasih ya pak, semoga sukses di proyek – proyek selanjutnya dan rezekinya lancar…”. Nama baik memang mahal harganya.

Jadi begitulah kira – kira pengalaman saya membeli properti syariah. Memang akhirnya saya belum memiliki rumah yang saya impikan, dengan sistem yang sesuai dengan idealisme saya, tapi ada pengalaman yang saya dapat dan bekal tabungan untuk hunting rumah impian selanjutnya.

Sebenarnya sistem syariah ini bagus sekali, dibanding sistem kpr bank yang begitu kezam, bunga berubah – ubah dan sistem anuitas yang membuat kita banyak bayar bunga di awal. Tapi ya mungkin memang masih perlu pembenahan sistem dan peningkatan profesionalitas dari sisi developer.

Saya sangat apresiasi dengan banyaknya developer yang bersemangat menggunakan sistem syariah, seiring dengan meningkatnya juga kesadaran masyarakat tentang betapa kejamnya sistem riba bank.

Adapun oknum – oknum tidak bertanggung jawab semacam Pak A, semoga diberi hidayah dan dihindarkan dari berurusan dengan orang semacam beliau. Terakhir saya ngintip akun media sosialnya, ada loh di bagian komentar orang – orang yang menagih hutang – hutangnya, sampai harus pake akun lain karena diblok oleh Pak A.

Saya yakin orang – orang yang berkecimpung di developer syariah adalah orang – orang baik yang mencoba berbisnis dengan sistem yang baik. Jadi jangan sampai oknum seperti Pak A membuat kita lantas sinis dengan sistem syariah yang masih baru berkembang ini.

Oiya temen – temen kalau ada yang kepo soal membeli properti syariah ini bisa japri saya via facebook atau email (dqm@udand.web.id). Saya ngga ahli, tapi ada lah pengalaman yang bisa saya bagi meski sedikit. Kalau kepo siapa Pak A, Pak H, dan Pak N juga boleh. Soalnya mereka – mereka ini masih berkecimpung di dunia properti syariah dan masih membuat proyek- proyek baru. Sengaja ngga disebut namanya terang – terangan disini, karena yah, buat aman nya aja. Takutnya saya dibilang mencemarkan nama baik apa gimana.

Btw setelah tulisan ini insya allah ada satu tulisan lagi tentang tips hal – hal yang harus dilakukan sebelum membeli properti syariah. Semoga segera bisa dipublish 😉

fyi. foto di atas mah di depan rumah mertua, buat plot twist aja :p

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top