Alat Pendeteksi Kenyinyiran : Pembatas Antara Komentar Nyinyir dan Tidak

“Mungkin bukan orangnya yang nyinyir, tapi kitanya yang terlalu sensitif” (dqm)

Memulai sebuah tulisan dengan quotes, rasanya kayak… keren abis ya, hahaha.

Membahas dunia nyinyir menyinyir (ini istilah apa coba), memang sedap dan ngga ada abis – abisnya. Terutama di kalangan Ibu – Ibu. Ada yang nulis artikel curhat, trus dikomentarin, ada yang komentarnya sedep, ada yang ngga sedep, kemudian ibunya sedih karena dinyinyirin, kemudian ada yang nulis artikel pembelaan, ada lagi yang komentar, ada yang entah nyinyir, entah membela, dan artikel ibu itu jadi viral, and so on, and so on.

Pertanyaan yang seringkali berkecamuk di kepala saya adalah : Dimanakah batas antara komentar nyinyir dan tidak nyinyir?

Karena seringkali kita salah paham. Yang bermaksud nyinyir, malah dipahami baik. Yang bermaksud baik, eh malah dianggap lagi nyinyir.

Seandainya ada alat doraeman yang bisa digunakan pada sebuah percakapan atau komentar di dunia media sosial, untuk mendeteksi level kenyinyiran. Misal di dunia nyata ada temen kantor yang ketemu, dia bilang “eh din, kamu gendutan ya!” kemudian alat pengukur/pendeteksi kenyinyiran di sakuku akan berkata “level nyinyir 100%” yang artinya “ohmaigat, gue benar -benar telah menjadi gendut dan teman kantor gue tidak menyukainya, atau “nyinyir 0%, dia orangnya emang perhatian and she’s concerned about your health”. Wow. Kemudian di media sosial, ada sebuah filter yang dapat digunakan pemilik artikel untuk menerjemahkan komentar orang – orang “this one nyinyir”, “this one iseng aja”, “this one sebenernya belain kamu” etc. Oh hidup di dunia pastinya akan menjadi lebih mudah. Wkwkkwk.

Sayangnya ternyata, nyinyir dan tidak nyinyir adalah variabel yang sangat relatif bagi setiap orangnya. Maka saya membayangkan, kalau pun alat doraemon yang ada dalam imajinasi saya ini bisa menjadi kenyataan, maka akan ada setting yang harus dikonfigurasi manual oleh setiap pemiliknya. Karena level nyinyir bagi setiap orang itu benar – benar berbeda! Kalau untuk wanita, mungkin akan ada juga setting khusus “menstruatial mode”, “awal bulan mode”, dan “akhir bulan mode”.

Pada beberapa orang, pertanyaan semisal “kamu gendutan yah?” bisa saja mengakibatkan wajah asem, status curhat di facebook, atau bahkan diblock diwhatsapp. Tapi bisa juga respon nya se-selow “yah, aku emang lagi suka banyak makan, hehehe”. (btw, karena belum adanya alat pendeteksi level kenyinyiran, boleh lah instrumen ‘hehehe’ digunakan sebagai penanda, apakah lawan bicara merasa dinyinyirkan atau tidak, serius!)

Pada banyak hal, soal nyinyir menyinyir ini seringkali cuma soal salah paham aja. Sebenarnya yang berkomentar itu peduli, perhatian, dan bermaksud baik, tapi karena yang diberi perhatian lagi sensitif, jadilah merasa tersinggung dan merasa dinyinyirkan, bener apa beneer?

Kalaupun memang benar yang memberi komentar itu bermaksud untuk nyinyir, ya disenyumin aja. (“Ngomong gampaaang!!!!” sambil dilemparin batu, wkwkwk)

Indahnya ajaran islam (eaaaa), ada terminologi yang namanya ‘husnudzon’, alias berbaik sangka. Dalam kondisi apapun, berbaik sangka lah pada teman – teman kita.

Kita bikin tulisan tentang sedihnya jadi ibu bekerja, trus ada yang komentar “yaudah sih ga usah kerja, repot amat”. Oookay…emang gue yang repot sih, pengennya ngga kerja, tapi kontrak kantor ada dendanya segala, hiks (trus nangis bersandar di bahu suami, aheuy).

Temen kita upload foto liburan terus, Alhamdulillah, ternyata dia sehat dan rezekinya lancar sehingga bisa tadabbur alam, bukannya disangkain pamer, jalan – jalan ko ga ngajak – ngajak…

Kalau memang ngga kuat untuk berhusnudzon, ya di unfollow aja temennya, wkwkwk.

Mari kita gali lebih dalam dasar hati kita, kalau kita iri lihat orang upload ini itu, mungkin sesungguhnya bukan mereka yang pamer dan sombong, kalau ada yang suka komen begini dan begitu, jangan – jangan bukan dia yang nyinyir, tapi hati kita yang kotor. Astaghfirullah…

Mungkin ada baiknya juga ya ‘puasa medsos’, ngikutin puasa daud, sehari buka medsos, sehari engga.

Puasa medsos, terbebas dari perdebatan dunia maya. Tapinya terus ngedengerin nyinyiran orang di kantor, pernyinyiran dunia nyata, wkwkwk. Rasanya pengen menghilang aja ditelen bumi.

Semoga kita dijauhkan dari menjadi golongan orang yang suka nyinyir menyinyir…Aamiiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top